Tentang Hati dan Rasio

Tulisan ini hanya berisi pandangan subyektif saya berdasarkan pengalaman pribadi. Sebenarnya kita tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana hati dan akal kita. Bagiku, segala tentang hati adalah tentang kejujuran. Kita tahu bahwa keduanya penting, akan tetapi kita percaya bahwa hati meliki nurani yang menjadikannya mulia. Saat rasio kita tidak bisa memberikan jawaban atas sesuatu yang ingin kita ketahui, jawabannya selalu kita kembalikan pada nurani. Ia tempat terbaik untuk kita. Meskipun pada akhirnya, kadang ego kita mencoba menguasainya.

Sebenarnya hati tidak pernah bingung atas apa yang dia inginkan, akan pergi kemana, untuk apa, bahkan dengan siapa raganya bersama. Ia tahu kemana harus berlabuh ketika menemukan hati yang tepat. Ia mampu menemukan kebahagiaannya, bahkan untuk hanya menciptakan kebahagiaan pun, ia pasti bisa. Akan tetapi, terkadang kita juga harus melibatkan akal atau rasio untuk mengawasi gerak-gerik hati kita, begitupun sebaliknya. Jika hati sudah terlanjur jatuh, ia kadang berubah menjadi liar, sulit kita kendalikan, kadangkala saat sakit sekalipun ia tetap mencoba yakin dengan pilihannya. Padahal, menurut akal kita, hati terlalu berlebihan memberikan dirinya pada hati yang lain. lantas ketika hati kita hanya menangis, dan merengek pada hati yang meninggalkannya, disinilah rasio berperan. Ia harus berusaha keras untuk menyadarkan hati atas sikap yang hanya menyudutkannya, membuatnya seakan kehilangan nuraninya. “aahh,,,sudalah masih banyak hati yang memiliki nurani di luar sana, hentikan tangismu, terlalu bodoh menangisi dia yang telah menghianatimu.” Begitulah yang akal sampaikan pada hati yang hancur itu. Meskipun sulit membuat hati sadar akan sikapnya, akal tidak akan berhenti begitu saja. Akal selalu membuat hati untuk berpikir.

Tidak hanya hati, akalpun tidak bisa berjalan begitu saja. Saat ia menghadapi masalah yang tidak mampu ia nalar, ia menjadi keras. Disinilah hati meredamnya, mencoba menenangkan dan membuatnya sedikit lebih nyaman. Akal terkadang menjadi egois dan tidak mau kalah, ketika ia gagal, ia akan menjadi begitu marah dan tak bisa berpikir sehat.  “kamu harus bersabar, ingat bahwa segala hal di dunia ini tidak bisa kamu kuasai. Ajaklah aku, jika kamu ingin berbagi.”begitulah yang dikatakan oleh hati.

Menusia memang makhluk yang terbaik, kita memiliki hati nurani dan akal untuk berpikir. Akan sangat merugi jika kita tidak menggunakan keduanya dalam keadaan yang sama. Hati memiliki hubungan erat dengan bagian-bagian lain dari diri kita. Maka, untuk hidup yang seimbang, keduanya adalah sahabat terbaik bagi raga manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s