Satu kisah cinta yang tak Aku mengerti

kita jalani pelan-pelan ya”

Satu kalimat sederhana yang merubah cerita hidupku dan menjadi sumber keberanianku untuk mencintai dan dicintai. Dia – lelaki ku – memberi kebahagiaan dan satu janji. Dia lelaki mengagumkan dan tak bersikap manis seperti para lelaki romantis. Dia tak pernah menulis puisi untukku atau menyanyikan sebuah lagu cinta, dia bahkan bukan orang pertama yang mengucap selamat pada hari ulang tahunku, tapi Dia yang memberi kado indah pada hari itu. Dia pemperlakukan ku seolah-olah aku perempuan yang sangat dicintainya. Itulah kenapa aku begitu mencintainya. Dan mungkin dia pun begitu. Aku, yah aku perempuan pencemburu bahkan sedikit possessive. Cemburu, aku rasa tak ada yang salah saat aku merasakan nya ketika melihat dia di antara perempuan-perempuan dan akhirnya membuatku menangis. Karena rasa itu membuktikan bahwa Aku mencintainya. Aku hanya takut kehilangan Dia. Waktu masih berjalan dan cerita cintaku masih sama. tapi, tanpa Aku sadari keadaan berubah terlalu cepat. Dia tak lagi bersikap sebagai seorang pangeran kepada seorang putri, tapi Dia berubah menjadi seorang Tuan terhadap sahayanya. Mungkin Aku berlebihan menganalogikannya, tapi begitulah Dia, bersikap seolah-olah Aku tak lagi ada. “kamu harus mengambil keputusan, aku hanya tidak ingin melihatmu menangis karena keadaan ini, aku mulai lelah” kalimat yang lebih rumit dan menyakitkan. Itulah yang akhirnya dia ucapkan.

Aku mencoba berfikir keputusan apa yang akan harus aku buat. Lama aku berpikir, tiba-tiba saja Aku berani memutuskan sesuatu yang pasti akan lebih rumit Aku jalani, tapi itu semua karena Aku hanya ingin dia tahu, begitulah Aku mencintainya. Love needs sacrifice karena cinta memang butuh sedikit pengorbanan.

Hingga suatu malam, saatnya Aku mengatakan keputusan yang telah Aku buat. Tapi Aku tak tahu harus memulai dengan kalimat apa, akhirnya Dia memecah diam diantara Kita malam itu. “apapun keputusan kamu, aku akan selalu ada di belakangmu”, Dia kemudian diam beberapa detik, dan Aku masih mencoba menyusun kalimat di kepalaku. Lalu Dia kembali bersuara “semua memang sedikit berubah, aku hanya ingin memperbaiki hidupku yang mulai rumit aku jalani, keadaan yang terlalu sulit ku hadapi, tapi semua ini ada di tanganmu, kamu harus mengambil keputusan”. Tuhan, Aku berpikir dan terus berpikir, haruskah Aku katakana keputusan yang sudah Aku pikir matang-matang?. Hingga akhirnya Aku melawan perasaanku, mungkin sebuah keputusan yang tak tepat Aku ambil, karena Aku tak mengikuti kata hati. “mendengar kalimat-kalimatmu, mungkin sekarang waktuku untuk bisa hanya menjadi teman biasa bagimu, tapi aku juga tak mau kau mengulang cerita rumit itu dengan orang lain, lakukan yang terbaik untuk hidupmu, aku baik-baik saja”. Entah, Aku tidak merasa lega akan keputusanku, sesuatu masih bersarang dihatiku dan melukainya. “Terimakasih karena kamu telah berkorban, aku mengerti perasaanmu. Tapi, ini bukan akhir dari segalanya, tidak menutup kemungkinan suatu saat kita akan benar-benar bersama”. kalimat ini seolah-olah memberi harapan baru bagiku, untuk hidup dengan keyakinan bahwa cinta akan berpihak padaku suatu saat nanti, entah kapan yang jelas hari itu pasti datang untukku, untuk Kita.

Hidup telah berubah. Aku, Dia memiliki jalan sendiri. Hingga tiba saatnya Aku rasa, Aku harus menyesali keputusanku malam itu, Dia memulai cerita “kita-dulu” bersama orang lain. Saat itulah, Aku kembali merasakan sakit, sakit karena Aku mencintainya, sakit karena Aku menjadi bodoh meyakini harapan itu. Aku mulai tak suka dengan keadaan ini. Aku benci Dia dan Perempuan itu, Aku tak peduli siapa mereka bagiku. Aku menjadi egois, dan menyalahkan keadaan. Aku benci melihat Dia harus tersenyum saat Aku sakit.

Lama Aku diam, tapi akhirnya Aku tersadar bahwa Dia bukanlah seorang pangeran, karena Dia tak bersikap seperti Pangeran yang gagah ,Dia tak seindah harapanku, dan Dia tak sebaik pikirku. Baginya, Cinta itu sederhana, tak perlu muluk-muluk, jika Dia dan mereka bisa mencinta tanpa satu pengakuan mereka akan bercinta. Dia mengakui bahwa Dia lelaki yang menganggap cinta hanya sebatas pertemanan dan Cinta bukan saling memiliki. Tapi bagiku, cinta tak sesederhana itu. Sebesar apa kita berkorban untuk cinta, begitulah cinta.

Hidup tak akan berakhir ketika Aku benar-benar terlepas darinya. Yah, Aku bebas melakukan apa saja yang Aku suka.” Life is too short to cry” begitulah kata sahabat-sahabatku, hidup memang terlalu singkat untuk hanya menangisi kesedihan. Kita harus kuat karena hidup itu berharga. Hidup adalah cinta dan cinta adalah sahabat, mulai hari ini aku akan bersahabat dengan hidupku, menikmatinya, dan hidup untuknya. Karena begitulah caraku memaknai hidup. I live my life.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s